Pertanyaan Umum

  1. Apa makna dari Meruwat Sangka?

Nama ‘meruwat sangka’ memiliki makna yang mewakili goal kami dalam menjalankan project ini. kata meruwat yang bersinonim dengan memulihkan, selaras dengan upaya kami untuk ‘menyembuhkan’ media sosial dari ‘gejala’ hoax. sangka yang juga berarti ‘dugaan’ atau ‘asumsi’, meprepresentasikan kecenderungan sikap masyarakat yang  tercermin di media sosial. sayangnya asumsi ini cenderung tak berdasar, atau hanya dipengaruhi perasaan sesaat. Secara sederhana, nama meruwat sangka sama artinya dengan memulihkan praduga-praduga di media sosial yang cenderung tak berdasar dengan berbagai upaya positif.

  1. Bagaimanakah ruang lingkup dan jangkauan project ini?

Kami berusaha untuk meningkatkan kepedulian dan mendorong pemuda-pemuda di SURABAYA untuk melakukan counter-narrative terhadap berita hoax di sosial media. Jangkauan kami adalah pemuda-pemuda berumur 18-25 tahun. Selain itu, kami menyasar pemuda-pemuda yang dikategorikan sebagai silent majority dalam menanggapi berita hoax, yaitu pemuda-pemuda yang mengerti bahwa berita-berita yang disajikan adalah berita palsu, tetapi tidak melakukan aksi terhadapnya. Survey kami menemukan sekitar 61% dari 149 responden di Surabaya enggan melakukan counter-narrative karena menganggap bahwa orang lain pasti akan melakukannya

  1. Project ini berada di bawah naungan siapa?

Project ini adalah salah satu bagian dari BSO Penalaran FISIP Unair dengan pembina yang merupakan salah satu dosen FISIP Unair dan sukarelawan dari salah satu mata kuliah di FISIP Unair

  1. Lalu, apakah project ini terbatas untuk mahasiswa FISIP Unair saja?

Project ini terbuka bagi para pemuda yang ingin aktif terlibat dalam kampanye kami

  1. Bagaimana caranya untuk bergabung?

Ikuti sosial media kami dan pantau terus situs web kami!

  1. Mengapa Meruwat Sangka memilih untuk menyorot isu berita hoax di sosmed?

Berangkat dari fenomena tubir dan konflik yang sering terjadi di sosial media maupun di luar sosial media yang diakibatkan oleh berita hoax, maka kami memutuskan untuk meletakkan urgensi pada isu ini. Pemberantasan berita hoax di sosial media tidak dapat berhasil hanya dari fitur-fitur pelacak di sosial media, tetapi harus dibersamai dengan kesadaran dari manusia sendiri, dimulai dari menjadi audiens yang kritis untuk.

Selanjutnya, salah satu dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unair yang sempat kami wawancarai menyatakan bahwa tidak adanya pengawasan di sosial media dan juga kurangnya pelembagaan media literasi membuat berita hoax sulit diberantas. Harapan kami adalah bekerjasama dengan pemuda-pemuda di Surabaya yang dapat mengambil peran aktif dalam pemberantasan berita hoax di sosial media.

  1. Bagaimana jika komunitas saya ingin ikut berpartisipasi dengan mengadakan kerjasama dengan project ini?

Hubungi email atau line official account kami!